Tips Sukses Bisnis Bakery dan Berjualan Roti

Artikel ini ditulis oleh M. Husin Syarbini, Pakar Bakery Tingkat Nasional

Jika di lihat dari data yang pernah di sampaikan oleh Asosiasi Pengusaha Bakery Indonesia (APEBI) memperkirakan angka penjualan roti dan kue pada tahun 2012 mencapai sekitar Rp 27 triliun.

Angka penjualan itu mengalami peningkatan berkisar antara 10 – 15% tiap tahunnya. Melihat potensi pasar yang sangat menggiurkan ini, maka tidaklah heran semua orang ingin memasuki sektor usaha roti.

Lalu bagaimana agar pertumbuhan bisnis roti ini juga di nikmati oleh Masyarakat kecil?

Khusus untuk produk roti memang terbilang agak sophisticated di banding jika pembuatan produk cake ataupun bahkan produk cookies yang bisa dilakukan di rumah.

Di Indonesia usaha bakery diklasifikasikan dalam 3 kategori besar yaitu ; Bakery Manufacturing, Modern Bakery dan Small Medium Bakery atau Bakery tingkat UKM atau Home Industry. Sedangkan klasifikasi lain untuk Industry Cookies memiliki kategori sendiri yang tergabung dalam Industry Biscuit yang di Indonesai pemain besarnya bisa di bilang agak banyak.

Berikut tips singkat yang mungkin dapat di gunakan agar peluang usaha produk bakery yang meliputi roti, cake, pastry dan biscuit dapat di jalankan di rumah. bagi yang masih awam dalam bisnis tersebut, ada lima tip yang dapat dipelajari sebagai berikut.

1. Memiliki skill atau kemampuan membuat produk.
Memulai usaha dalam dunia baking atau bakery dapat dilakukan dengan menguasai salah satu jenis produk bakery. Kita tidak perlu memaksakan untuk memulai usaha dengan membuat seluruh produk bakery dari roti, cake, pastry, dan cookies.

Cukup pilih satu atau dua kategori produk dan fokus untuk dapat membuatnya dengan kualitas terbaik, baik dari sisi rasa maupun tampilan. Pilihan yang paling banyak dan dapat dikerjakan di rumah adalah aneka kue kering (cookies) atau cake.

Untuk produk cake, banyak produk yang dapat dibuat meski hanya mengkhususkan satu jenis produk, yaitu dengan variasi rasa. Misalnya brownies, baik yang dibakar maupun yang dikukus dengan berbagai rasa atau topping. Sementara itu, untuk produk turunan pastry dapat kita fokuskan pada makanan tradisional, seperti bakpia, kue sus, ataupun croissant.

2. Pilih alat rumah tangga yang tersedia dengan investasi yang tidak terlalu besar.
Dengan pilihan produk cake dan cookies seperti yang di jelaskan di atas, kita dapat memulai dengan menggunakan alat-alat yang tidak terlalu mahal, seperti mikser tangan, oven kaleng atau oven gas, loyang cake atau loyang cookies, dan alat-alat pendukung lainnya yang sudah tersedia di dapur.

Penjelasan panjang lebar tentang pemilihan peralatan yang dibutuhkan dalam membuat roti bisa diperoleh di buku A-Z Bakery, sedangkan untuk peralatan cake bisa diperoleh dalam buku Cakepreneur.

3. Pilih kemasan yang memikat, baik secara desain maupun warna.
Setelah kita bisa membuat produk dengan baik dan memiliki kualitas rasa yang lezat bagi calon pelanggan, maka tahap berikutnya adalah menentukan presentasi akhir dari produk yang dibuat.

Presentasi produk dapat dilakukan dengan membuat topping yang beraneka rasa dan tentunya setelah itu dibungkus dengan kemasan yang menarik.

Namun, syarat utama yang harus kita sadari bahwa fungsi kemasan pada dasarnya adalah untuk melindungi produk agar memiliki masa kedaluwarsa atau expiry date yang kita harapkan dan produk tidak mengalami kerusakan sebelum dikonsumsi pelanggan. Adapun dari sisi estetis, desain produk dibuat menarik sehingga memancing pelanggan agar membeli produk yang kita buat.

4. Lakukan food testing secara berulang dan mintalah masukan kepada calon pelanggan.
Setelah menguasai pembuatan produk yang kita pilih, maka pada tahap berikutnya kita mulai melakukan proses marketing sederhana. Kita bisa melakukannya dengan food testing atau icip-icip kepada calon pelanggan yang dituju.

Produk bakery secara umum dapat dinikmati oleh semua orang. Oleh karena itu, food testing dapat kita lakukan dengan memberikan produk pada saat acara-acara pertemuan di lingkungan sekitar.

Banyak pengusaha bakery rumahan yang menggunakan cara ini guna melihat respons dari calon pelanggannya. Mereka menggunakan suguhan aneka kue yang dibuat pada acara arisan keluarga, pengajian, dan pertemuan-pertemuan lain sambil menanyakan respons dari teman atau keluarga yang mengikuti acara tersebut.

5. Cara menjual
Mengingat produk-produk bakery merupakan produk makanan yang mudah rusak, kita tidak perlu memaksakan untuk men-display produk pada tahap awal mencari pasar. Lebih baik kita perbanyak testing sambil menanyakan komentar atau masukan dari pelanggan yang kita bidik.

Dalam berjualan makanan, termasuk produk-produk bakery, yang menjadi perhatian pertama kali adalah CITA RASA atau rasa. Saat rasa sudah mulai diterima, maka tahapan berikutnya adalah kita bisa meminta orderan.

Order dapat dilakukan secara langsung dari pembeli ataupun secara tidak langsung, yaitu dengan meminta pelanggan kita untuk merekomendasikan produk kita kepada orang lain.

Selain itu, pengenalan produk yang sudah berhasil dibuat dengan baik dapat dilakukan dengan menyebar brosur saat event-event tertentu, juga dengan memberikan diskon khusus. Dengan demikian, biaya promosi yang dikeluarkan bisa sangat ekonomis, tetapi memiliki kekuatan efek word of mouth yang luar biasa.

Cara menjual seperti itu membutuhkan anggaran yang minim (low budget), tetapi memiliki pengaruh yang besar (high impact). Seiring dengan semakin berkembangnya dunia internet, maka penggunaan sosial media dapat dimanfaatkan sebagai sarana promosi yang handal guna menjaring calon pelanggan yang menjadi target pasar.

Artikel ini ditulis oleh Husin Syarbini, yang memiliki blog bagus dan lengkap tentang TEKNOLOGI ROTI dan BAKERY.

Free Ebook

Dapatkan Lima Buku Dahsyat tentang Karir, Strategi Bisnis, Motivasi dan Financial Freedom secara GRATIS!