Pedagang Pasar Sepi Tapi Bisnis Online Malah Makin Meroket

Artikel ini merupakan kontribusi dari guest blogger bernama Daniel Nagata

Perkembangan omzet pelaku pedagang pasar dengan pelaku bisnis online (jualan online) makin bertolak belakang. Disaat dagangan konvensional di pasar semakin sepi, bisnis online malah semakin melejit dan riuh peminat.

Kondisi ini yang membuat miris, apalagi sekarang harga komoditas pertanian seperti karet, sawit tidak berbanding lurus dengan harga kebutuhan pokok. Disaat harga kebutuhan pokok merangkak naik akibat inflasi, harga komoditas pertanian/perkebunan justru makin terjun bebas.

Ini tentu berdampak buruk bagi para pedagang pasar yang notabene cara berjualannya masih konvensional alias menunggu orang datang ke pasar untuk belanja. Berbeda dengan pelaku bisnis online yang berjualannya di dongkrak oleh popularitas digitalisme, internetisasi dan demam sosmed.

Saat ini hampir semua barang dan jasa dapat diperoleh secara online, termasuk didalamnya Jasa Gojek. Semakin manja, semakin mudah, dan semakin cepat itulah slogan era digitalisme dan saya rasa sangat relevan.

Baiklah, mari kita kupas tuntas tentang problematika pedagang pasar dan meroketnya bisnis online, yang semakin menjamur sembari menghangatkan badan dengan kopi tubruk plus camilan sehat.

Problematika Pedagang Pasar
Beberapa pedagang pasar yang berkonsultasi dengan saya mengeluhkan usaha dagangannya di pasar yang makin sepi, padahal sebentar lagi menjelang hari raya Natal. Marketing strategy to drive your sales and market share.

Biasanya pak, memasuki bulan Desember jualan saya (pakaian, sepatu, sandal dan aksesoris) udah rame dan untung saya juga lumayan besar, tapi tahun ini sepi, keluh salah satu pedagang.

Sementara yang lain lagi, Modal saya makin menipis pak, selama usaha saya sepi terkadang untuk makan sehari-hari diambil dari modal, akhirnya stok barang juga makin sedikit. Gimana mau jualan kalau barang yang jenis dijual kurang, bayar utang juga nyendat-nyendat ni pak.

Ada lagi yang lain, saya butuh modal pak, maklum menjelang Natalan ini biasanya ramai pembeli, jadi saya harus stok sejumlah barang, biar nggak keburu harganya naik.

Dari beberapa kondisi pedagang pasar diatas dapat disimpulkan bahwa ada permasalahan pokok dan utama adalah daya beli masyarakat menurun. Hal ini diakibatkan oleh turunnya harga komoditas pertanian seperti karet dan sawit.

Keduanya merupakan komoditas unggulan masyarakat di daerah Kalbar, khususnya Kabupaten Mempawah (tempat saya bekerja sekarang) serta beberapa kabupaten lain di Kalbar.

Dapat dikatakan kondisi krisis yang dialami berdampak sistemik, hampir semua lapisan terkenal imbasnya. Pedagang pasar sudah banyak yang termehek-mehek menunggu dagangannya dibeli.

Sementara kehidupan musti terus berlanjut, terkadang bertahan dalam kondisi sulit memaksa untuk lebih kreatif, terutama melihat peluang.

Dominasi Jualan Online dan Era Digitalisme
Selama tiga bulan terakhir, sudah ada sekitar 6 orang pelaku bisnis online yang berkonsultasi dengan saya untuk memohon bantuan pinjaman dana demi memperbesar usaha jualannya.

Barang yang dijual cukup beragam dan yang mendomonasi adalah Fashion Wanita (Baju, Celana, Dres, dll), Tas, Jilbab, Jaket, aksesoris hingga sepatu/sandal.

Udah tau dong, wanita kan emang doyan borong, dan shopping dijadiin hobi dan olah raga.

Kondisi ini cukup menggembirakan karena kebanyakan dari mereka baru saja mencoba jualan secara online.

Saya coba bertanya, melalui media apa jualan onlinenya mbak?

Saya biasanya pake BBM, instagram dan Facebook sementara beberapa teman saya mencoba lewat jual beli online semacam BukaLapak.com, OLX dan sejenisnya.
Dalam hati saya berpikir, ini usaha yang cukup prospek, mengingat omzet mereka udah lumayan untuk ukuran Ibu Rumah Tangga yang kebanyakan untuk penghasilan tambahan. Berkisar 1 digit, udah lumayan benget kan…

Sangat kontras, disaat pedagang pasar mengeluhkan dagangannya sepi, pelaku bisnis online malah tambah modal mengembangkan usaha jualannya dan menambah item barang yang dijual.

Sekali lagi ini membuktikan bahwa era digitalisme cukup ampuh mendongkrak penghasilan, jika tahu cara mengkonversinya tentunya. Kebanyakan pelakunya adalah Ibu rumah tangga, Karyawan dan PNS yang memang sudah memiliki banyak jaringan/teman.

Saya sempat tertegun dan berpikir keras (bukan cuma kerja keras) bagaimana cara membantu pedagang pasar untuk mulai mengonlinekan dagangannya. Maklum mereka kebanyakan GapTek (Gagap Teknologi).

Mana kenal mereka sama BBM, Facebook apalgi Instagram. Belum lagi jika kita bilang BukaLapak.com, OLX atau Tokopedia, makin pusing nantinya. Berkenalan aja belum pernah, gimana mau kenal? Ting…..itu yang terbersit dalam benak dan hati kecil saya.

Paling tidak metode berjualannya yang diperbaiki, bukan Cuma menunggu melainkan proaktif, itu nasehat pamungkas saya kepada mereka. Dan beruntung cukup manjur, karena pembeli semakin dimanjakan, tinggal duduk manis, barang pesanan sampai dengan selamat.

Benarkan Era Digitalisme Menawarkan Banyak Peluang?
Bila kita flashback sedikit tentang cerita pedagang pasar dengan pelaku bisnis/jualan online diatas, dapat disimpulkan tiga hal yaitu kreatifitas, kerja keras dan kerja cerdas.

Kreatifitas, mengubah tantangan (dagang konvensional sepi) menjadi peluang (jualan online) yang mungkin saja menjadi jalan kesuksesan. Seseorang dapat dikatakan kreatif manakala ia berhasil keluar dari kesulitan yang dialami bahkan semakin bertambah sukses.

Kerja keras, memulai sesuatu yang tidak biasa (banting setir) atau keluar dari zona nyaman memang lebih sulit. Diperlukan kerja keras dan kegigihan serta daya jaung yang tinggi. Jika salah dalam melangkah (banting setir), bukan tidak mungkin masuk jurang.

Kerja cerdas, memanfaatkan kecanggihan digitalisme sebagai media promosi yang efektif. Saat orang malas keluar rumah karena macet, panas, ongkos dijalan bahkan ancaman kejahatan, solusinya adalah belanja online.

Peluang yang besar ini perlu segera dibungkus rapi dengan ketiga pilar (dan mungkin masih banyak lagi) diatas, agar tidak berlalu begitu saja. Mengeluh aja nggak akan menyelesaikan persoalan, do more.

Dengan berbelanja secara online melalui BBM, FB, Instagram, memungkinkan seseorang untuk tidak keluar rumah. Pembayarang dapat dilakukan secara online via internet banking, atau COD.

Internet Positif
Internet yang digunakan secara baik terbukti ampuh untuk mendongkrak bisnis konvensional yang mulai ditinggalkan oleh manusia modern. Punya bisnis offline sudah saatnya berpikir untuk mengonlinekannya.

Tidak sulit untuk memulainya, yang penting mau mencari informasi di google. Tinggal cari sendiri aja di google, udah malas googling gimana mau ciptakan informasi dan peluang sendiri?

Googling itu nggak susah kok, tinggal cari doang, nggak pake mikir lama-lama, nggak pake ribet. Langsung tancap gas…..

Banyak orang di kolong langit ini sudah membuktikan diri untuk mampu menghasilkan dollar dan pundi rupiah lewat internet ataupun jualan online, kini giliran Anda untuk sukses, Never Give Up.

Penulis adalah Daniel Nagata – yang memiliki blog bagus tentang pengembangan diri DISINI.

GRATIS - Materi pelatihan : Bagaimana Cara Menghasilkan 40 Juta/Bulan dari Internet. JANGAN DI-KLIK.

Free Ebook

Dapatkan Lima Buku Dahsyat tentang Karir, Strategi Bisnis, Motivasi dan Financial Freedom secara GRATIS!